Kisah dan Teladan Santa Anastasia, Martir (25 Desember)

Salah satu orang Kudus atau santo / santa yang diperingati dalam Gereja Katolik di bulan Desember adalah Santa Anastasia. Dalam Gereja Katolik Roma, Pesta namanya dirayakan atau diperingati setiap tanggal 25 Desember setiap tahunnya.

Santa Anastasia menjadi martir yang meninggal sebagai saksi iman Kristen di Sirmium (sekarang: Serbia, Yugoslavia)). Ia juga diakui sebagai Santa pelindung para Martir, penenun (pejahit) dan mereka yang menderita dari racun (Anastasia the Pharmakolytria atau "Pembebas dari Ramuan).

Santa Anastasia mulai diperingati dalam Gereja Katolik Sejak abad ke 5 dan namanya secara khusus masuk dalam Doa Syukur Agung I Misa Natal Malam, Pagi, dan Siang; dan menjadi satu dari tujuh perempuan yang diperingati oleh nama dalam kanon Misa tersebut.

Kisah Hidup Santa Anastasia

Santa Anastasia adalah seorang anak perempuan dari bangsawan Roma pasangan Praetextatus (seorang bukan Kristen) dan ibunya adalah St. Fausta Sirmium seorang Kristen yang taat.

Oleh ibunya Anastasia dibaptis dari bayi dan diam-diam dibesarkan dengan nilai-nilai Kristen.

Menginjak masa dewasa dan setelah ibunya meninggal, oleh ayahnya Anastasia dijodohkan dan menikah dengan Publius, seorang pegawai yang masih kafir. Walaupun menikah, ia tetap mempertahankan keperawanannya.

Masa hidup Anastasia dihabiskan pada masa penganiyaaan Kristen oleh pemerintahan Diokletianus.

Sebagi seorang Kristen, Anastasia memiliki rasa empati dan tanggung jawab moral terhadap sesamanya yang dipenjarakan.

Hampir setiap hari Anastasia pergi ke panjara untuk menghibur dan membantu orang-orang Kristen yang dipenjara. Dia memberi makan, menyembuhkan, dan menebus para tawanan yang menderita.

Kebiasaan tersebut ternyata diketahui oleh pelayannya dan diberitahukan kepada Publius, sehingga Publius suaminya mengurungnya dan dilarang keluar rumah.

Walaupun tidak bisa keluar rumah, Anastasia secara diam-diam melakukan komunikasi dan korespondensi melalui surat dengan penasihat sekaligus Bapa Pengakuannya, St. Chrysogonus, yang telah pergi ke Aquileia. Dia menyuruhnya untuk tetap berani, bersabar dan menerima kehendak Tuhan.

Ketika Publius meninggal dunia saat berada di kedutaan besar di Persia, Anastasia membagikan hartanya kepada mereka yang kurang beruntung dan menderita.

Ia lalu pindah ke Aquileia mengikuti Krisogonus. Umat Kristen Aquileia menerimanya dengan senang hati. Di Aquileia ia sangat aktif.

Tak lepas dari kejaran Diocletian, Chrysogonus secara pribadi diinterogasi oleh Diocletian, tetapi dia tidak pernah melepaskan keyakinannya. Chrysogonus diperintahkan untuk dipenggal dan dibuang ke laut.

Setelah kematiannya, Chrysogonus menampakkan diri kepada Zoilus, seorang penatua yang menemukan reliknya dan meramalkan kemartiran St. Agape, Chionia dan Irene.

Dia meminta Zoilus untuk mengirimkan Anastasia kepada ketiga saudara perempuannya tersebut sebagai penyemangat.

Sembilan hari kemudian, Anastasia mengunjungi kedua saudarinya tepat sebelum mereka disiksa. Setelah mereka menjadi martir, Anastasia menguburkan mereka.

Anastasia menghabiskan waktunya bepergian dari kota ke kota untuk merawat para tahanan Kristen. Dia menyembuhkan luka mereka dan menghilangkan rasa sakit mereka. Dia diberi gelar "Pembebas Ramuan", karena dia sering menyembuhkan banyak orang dari efek racun dan ramuan.

Anastasia ditangkap di Illyricum dan dibawa ke prefek distrik tersebut karena beragama Kristen.

Dia mencoba membujuknya untuk menyangkal keyakinannya dan mengancamnya dengan penyiksaan. Anastasia tidak bisa terpengaruh, jadi dia diberikan kepada pendeta kafir Ulpian di Roma.

Oleh Ulpianm Dia diberikan pilihan antara kekayaan atau penderitaan, kemewahan atau alat penyiksaan.

Anastasia tak gentar sedikitpun, Dia memilih penyiksaan. Dia diberi waktu tiga hari untuk mempertimbangkan kembali.

Terpesona oleh kecantikannya, Ulpian memutuskan akan menajiskan kemurniannya. Namun, begitu dia hendak menyentuhnya, dia menjadi buta dan kepalanya terasa sangat sakit. Dalam perjalanan menuju kuil kafirnya, dia terjatuh dan mati.

St Anastasia, sekarang bebas, berangkat untuk merawat orang-orang Kristen yang dipenjara, bersama dengan Theodota, seorang janda muda yang saleh dan penolong yang setia. Setelah Theodota menjadi martir, Anastasia ditangkap lagi.

Dia disiksa dengan membuat Anastasia kelaparan selama 60 hari. Namun Anastasia tidak terluka. Dikatakan bahwa Theodota yang mati demi kristus mengunjunginya dan memberinya makan selama ini.

Hakim memutuskan para tahanan, termasuk Anastasia dan Eutychianus, akan dibunuh dengan cara ditenggelamkan. Mereka semua memasuki perahu yang berlubang di dasarnya, tetapi St. Theodota menampakkan diri kepada mereka dan mengarahkan perahu itu ke pantai. Begitu mereka mendarat, Anastasia dan Eutychianus membaptis 120 pria.

Setelah melarikan diri lagi, Anastasia dibawa ke pulau Palmaria. Dia ditancapkan ke tanah dengan tangan dan kaki terentang dan dibakar hidup-hidup. Bersamaan waktunya: 200 orang laki-laki dan 70 perempuan dibunuh sebagai martir.

Kemartiran ini terjadi pada tahun 304, pada zaman pemerintahan Kaisar Diokletianus.

Oleh Kaisar Leo di Konstantinopel, relikwi dari Anastasia dikirim ke Konstantinopel, di mana sebuah gereja dengan nama Gereja Anastasia didedikasikan untuknya. Kemudian, relekwi dipindahkan ke Biara St. Anastasia dekat Gunung Athos.

Anastasia dihormati di Roma sejak abad kelima dan namanya dimasukkan dalam Doa Syukur Agung Misa Kudus.

Konon di zaman Gereja perdana, Sri Paus mempersembahkan 3 kurban Misa, yaitu Misa Malam, Misa Pagi/Fajar, dan Misa Siang di gereja yang berlain-lainan.

Di sini Sri Paus merayakan perayaan Natal, sekaligus mengenang Santa Anastasia secara khusus. Namun lambat-laun karena peristiwa Kelahiran Yesus lebih diutamakan, maka pesta bagi Anastasia hanya bersifat ‘peringatan saja’ di gereja Titulus Anastasiae, yang dibangun pada abad ke-4.

Posting Komentar untuk "Kisah dan Teladan Santa Anastasia, Martir (25 Desember)"

close